Birthday?

Halo temans! Di tengah-tengah flashbackku tentang my hockey journey, aku bakal tetep nulis soal yang lain kok, tenang aja hehehe. Aku ga mau yang baca sampai bosen kalo blog aku tentang hockey mulu ๐Ÿ˜€

Honestly, aku nulis ini karena terinspirasi oleh sahabatku, fanny, yang nulis duluan tentang ulang tahun. Sebenernya udah lama kepingin nulis tentang ini, tapi antara males dan ragu gitu. So here we go.

Ulang tahun. Katanya sih hari yang spesial, karena cuma satu tahun sekali ngerasainnya. Padahal, kalo dipikir-pikir 3 Januari juga cuma sekali di tahun 2013. 5 Mei juga cuma sekali di tahun 2015. Iya ga sih.. Hehe ๐Ÿ˜€ Ulang tahun. There are many ways to celebrate it. Ucapan manis, doa, kue, lilin, hadiah, surprise, dan lain-lain.

Secara umum dan keseluruhan, aku bukan orang yang anti ulang tahun. Hari ulang tahunku beberapa kali dirayakan, aku pun pernah dapet surprise dari teman-teman, dapet kado, dapet ucapan dari orang-orang yang kusayangi. Dan sebaliknya, aku pernah ikut merayakan, mengucapkan, ikut memberi surprise dan kado pada temanku yang berulang tahun.

Suatu hari aku berpikir, apakah ulang tahun itu sesuatu yang harus dirayakan? Aku pernah bertanya ke ayah. “Yah, waktu aku berumur 2 tahun kok ulang tahunnya dirayain besar-besaran gitu sih?” Waktu itu aku lagi buka album foto lama. “Iya, mau gimana lagi. Keluarga besar maunya ngerayain, padahal ayah ga mau. Tapi ya ga enak kan, jadinya dirayain deh.” Lalu ayahku cerita, bahwa ia dan mamah sebenernya bukan tipe orang yang merayakan sesuatu seperti ulang tahun ataupun hari jadi lainnya. Baginya itu tidak terlalu penting, masih banyak hal lain yang lebih penting untuk dipikirkan. Aku baru sadar, di keluargaku ulang tahun memang bukan sesuatu yang gimana-gimana. Paling, “Oh hari ini Rifqi 20 tahun ya?” “Banyak introspeksi diri, banyak doa, umur ga tau sampe kapan” Paling sekadar itu. Perayaan ulang tahun, kue, dan hadiah hanya ada saat aku dan adik-adik balita, itu pun karena desakan keluarga besar.

Meskipun aku sepakat dengan ide ayah, aku kadang tetap ikut merayakan atau memberi ucapan ulang tahun ke orang-orang yang aku kenal simply because they love it, and it makes them happy. Dan sebaliknya, people were very nice sending me birthday greetings on the day of my birth. Tentunya aku senang menerima segala bentuk kebaikan itu.

Tapi… Beberapa kali aku dengar, kalo di agama Islam itu tidak ada yang namanya (perayaan) hari ulang tahun. Beberapa kali juga sempat kuabaikan, karena pikirku, selama itu baik, kan ga apa-apa. Baik menurut siapa? Hmm. Di tengah perjalanan yang kusebut hijrah ini, aku banyak belajar dan ikut kajian. Akhirnya menemukan pertanyaan tentang ini. Ternyata jawabannya belum berubah.

Rasulullah Shallallu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya ga pernah merayakan atau mengucapkan selamat ulang tahun. Jika untuk ibadah, misalnya sebagai ritualisasi bentuk syukur, jelas tidak ada contohnya. Ibadah yang diada-adakan itu akan tertolak amalannya, bahkan bisa jadi dosa, karena perbuatan tersebut tercela. Jika bukan untuk ibadah, melainkan untuk tradisi, kebiasaan, atau pun have fun, ini pun ga sesuai dengan agama Islam. Karena hari raya umat Islam cuma ada tiga: Iedul Fitri, Iedul Adha, dan hari Jumat. Selain itu, ditakutkan adanya unsur tasyabbuh yaitu menyerupai musuh-musuh Allah. Budaya ulang tahun jelas bukanlah budaya kaum muslimin. (sumber: muslim.or.id dan almanhaj.or.id, sebenernya penjelasannya masih banyak lagi ๐Ÿ˜€ )

Well, I chose to believe that. Setelah dikaji, memang masuk akal. Terus terang, ini bukan hal yang mudah buatku. Aku harus mengesampingkan perasaan ga enak aku pada orang-orang yang kusayangi yang ga kuucapin di hari spesial mereka. So, I’m really sorry if I don’t send you birthday wishes on your special day. It’s not that I forget or I don’t care or I don’t want you to be happy, but I just do not celebrate birthday. I don’t think that it’s a very important thing, and I just want to be obedient to Allah.ย Walaupun aku ngga ngucapin, insyaAllah sebenernya aku selalu inget, dan ga cuma doain di hari spesialnya aja, tapi setiap hari setiap saat, insyaAllah aku selalu berdoa untuk orang-orang yang kusayangi. ๐Ÿ™‚

Jika demikian, sikap yang Islami dalam menghadapi hari ulang tahun adalah: tidak mengadakan perayaan khusus, biasa-biasa saja dan berwibawa dalam menghindari perayaan semacam itu. Mensyukuri nikmat Allah berupa kesehatan, kehidupan, usia yang panjang, sepatutnya dilakukan setiap saat bukan setiap tahun. Dan tidak perlu dilakukan dengan ritual atau acara khusus, Allah Maha Mengetahui yang nampak dan yang tersembunyi di dalam dada. Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan. โ€“ Yulian Purnama

 

Yang namanya perbedaan pendapat pasti selalu ada, tapi semoga ga ada perdebatan tentang hal yang baru aja kubahas ya hehehe.ย It’s (just) about what I believe and what you believe. And respect each other for what we believe. Jadi ga ada saling menyalahkan ya, saling mengerti dan menghargai pendapat aja ๐Ÿ˜‰

Ramadan 1438 H

Alhamdulillah, di tahun ini bisa ketemu lagi sama bulan Ramadan! Senang banget pastinya ๐Ÿ™‚ Bulan yang selalu ditunggu-tunggu. Bulan yang banyak terdapat kebaikan di dalamnya. Bulan yang bisa bikin banyak orang berhijrah (which is good!). Bulan yang, di mana kita bisa hemat duit buat manjain perut (dengan catatan ga ikut bukber-bukber hahaha). Bulan, yang di mana kita bisa jadi kaya dengan cara bersedekah. Ya pokoknya banyak lah ya makna dari bulan ini.

Buat semua temen-temen yang aku sayangi, semoga di bulan suci ini segala sesuatunya dilancarkan. Semoga target-target di bulan ini tercapai. Semoga amal ibadah yang kita lakukan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga banyak limpahan berkah juga. Aamiin aamiin ๐Ÿ™‚

a2

Aku sendiri seneng banget sama bulan ini. Soalnya menurutku ini adalah waktu yang terbaik buat belajar dan membiasakan diri untuk lebih dekat sama Allah, ya pokoknya meliputi semua sektor ibadah dan kebaikan ya. Harapannya, nanti setelah bulan Ramadan usai, bakal tetep istiqomah dan jadi lebih baik pastinya. I know that it’s not easy. Kalo gampang bukan istiqomah namanya, tapi istirahat hahaha. Jujur, aku juga masih ‘naik turun’ lah. Tapi selama masih ada niat dan usaha, insyaAllah ga akan sia-sia.

Aku juga selalu pasang target di bulan ini, biar termotivasi untuk memperbanyak dan meningkatkan kualitas ibadah. Rasanya seneng banget kalo target-targetnya tercapai. Tapi aku juga pernah ngalamin gagal menuhin target, dan itu rasanya sedih banget banget banget. So I suggest you, please jangan sia-siain bulan Ramadan ini. Ibadah sebanyak, dan sebaik mungkin. Dan selalu berdoa juga, karena doanya orang yang berpuasa itu mustajab.

Selain fokus buat deket sama Allah, di bulan ini juga waktunya buat my beloved family dong. Sebagai orang yang bermotto family first, aku selalu menantikan segala aktivitas yang dilakuin bareng sama mamah ayah dan kedua adikku, although it’s just a normal and usual thing such as sahur, buka puasa, ngaji, dan jogging. Meskipun aku sekarang lagi jadi pengacara (pengangguran ga banyak acara haha) dan sering di rumah, aku tetep selalu menantikan itu. Buatku sih itu precious banget, ga kebayar lah. Kan ga tau sampai kapan bisa bareng-bareng terus. Ga tau umur sampai kapan. Iya kan hehe ๐Ÿ™‚

Oh iya, kalo lagi bulan puasa, temen-temen pasti banyak acara buka bersama alias bukber. Dan semua restoran di mana-mana, pasti penuh di sore hari. Waw sesuatu banget ya ๐Ÿ˜€ Aku pribadi sih, beberapa tahun terakhir emang jarang ikutan bukber. Kalo dulu alesannya ya latihan hahaha. Bukbernya ya di GSG kampus mulu sama anak hockey, itu itu lagi pokoknya hehe.

Tapi untuk sekarang-sekarang ini, aku lebih milih ga ikutan bukber karena menurutku, yang pertama, bukber di luar itu bisa ngurangin fokus ibadah. Just admit it, ada yang sampe kelewat maghrib isya tarawihnya (amit-amit sih ini, jangan gitu ya temen-temen), ada yang sholat sekadarnya aja karena di tempat umum kurang bisa leluasa gitu kan ya, dan pasti lah fokusnya jadi lebih ke acara bukbernya dan temen-temen bukber, bukan beribadah. Alasan kedua adalah b-o-r-o-s ๐Ÿ˜€ Dua alasan ini sih based on my experience yah. Alasan ketiga, balik ke paragraf sebelumnya, aku lebih nyaman di rumah bareng keluarga ๐Ÿ™‚ Ini belum termasuk alasan-alasan yang ‘keras’ dan syar’i, yang aku pun belum bisa nerapin sepenuhnya, ya seperti ikhtilath, tabarruj, wanita yang lebih baik di rumah aja, dan mungkin masih banyak lagi.

Ya mohon maaf kalo aku cuma bisa bilang “maaf ga bisa ikut” kalo ada ajakan bukber di luar. Kecuali, sama sahabat-sahabatku yang bener-bener deket (I keep my cricle small btw), dan tempatnya pun kalo bisa harus di rumah. Duh, aku ga ngebayangin soalnya, ke mall pas bulan puasa di jam buka puasa. Udah pernah dan kapok sih. Dan sejujurnya, ajakan bukber udah mulai berkurang, yah mungkin karena dari dulu jarang dateng haha. Terus kalo dibilang aku ga mau silaturahmi? Ya silaturahmi kan bisa kapan aja, mending di luar bulan puasa lebih fleksibel waktunya, iya ga sih hehe. Tapi bukan berarti bukber itu ga baik yah, pasti ada sisi positifnya juga. Kan ada juga bukber yang emang jadi satu rangkaian dari kajian, tabligh akbar, atau semacamnya, terus buka bersama fakir miskin atau yatim piatu, dan lain-lain.

Yah gapapa ya, jadi sedikit ngebahas soal bukber. Pokoknya tetep semangat ya semuanya dalam menjalani bulan Ramadan kali ini! ๐Ÿ™‚

My Umroh Trip: Prologue

First of all, aku mau nekanin kalo tulisan ini bukan untuk riya, sombong, pamer, atau apa pun itu. Cuma buat sharing dan cerita aja, that’s all. ๐Ÿ™‚

Jadi alhamdulillah, dari medali emas PON tahun lalu, aku dapet rezeki berupa bonus dari Pemprov DKI Jakarta yang (baru) cair di bulan Desember. Jumlahnya buat aku, gede banget! Jujur, sempet ga percaya. Walaupun katanya nominal yang aku dapat itu ga sesuai sama yang dijanjikan. Aku sih ga terlalu masalah, dapet aja udah syukur banget hahaha. Tapi ga cukup juga sih buat beli rumah atau pun mobil hehe, jauh bro. Banyak yang terlintas di pikiran aku, uang sebanyak itu mau buat apa aja. Saking banyaknya sampai bingung, dan akhirnya belum ada yang terealisasikan. Sedikit demi sedikit (yang jadi banyak pada akhirnya) uangnya mulai berkurang, untuk kebutuhan pribadi aku, beli ini itu (biasa suka khilaf liat barang lucu), traktir sana sini, dan nyenengin keluarga aku. Yang terakhir bisa dibilang ga kekontrol, tapi menurutku worth it bahkan tak ternilai, mengingat waktuku yang telah tersita cukup banyak untuk hockey, sehingga dulu jarang banget ngabisin waktu sama keluarga.

Seiring berjalannya waktu, aku mikir terus sebaiknya aku pakai buat apa dananya, karena kalo ga dipakai buat hal yang ‘nyata’ dan bermanfaat, dana ini bakal abis gitu aja. Fyi, I’m still unemployed, jadi aku langsung pakai dana itu buat semua kebutuhanku sehari-hari biar ga ngerepotin orang tua. Well, tapi berkat dana itu aku jadi ga terlalu galau soal pekerjaan hehe. Eh, kok jadi curhat sih.. Lanjut, akhirnya orang tua aku, terutama ayah, tiba-tiba menyarankan aku untuk menunaikan ibadah umroh bersama adik-adikku (orang tuaku sudah pernah umroh). Sebenernya aku sempat mikir umroh, tapi memang bukan jadi opsi pertama. Apalagi kalau harus mengajak adik-adik, aku pikir biayanya lumayan juga.

Dua tiga hari aku pikirin hal itu, aku jadi malu. Mau ibadah kok mikir-mikir dan banyak pertimbangan. Bisa jadi, rezeki yang aku punya, memang diperuntukkan untuk mengunjungi rumah Allah. Bisa jadi, aku dipanggil kesana lewat rezeki ini. Akhirnya aku bulatkan niat dan tekad untuk jadiin agenda umroh itu. Karena biaya sendiri, aku ngurus semuanya pun sendiri. Dari cari-cari travel yang cocok, ke tempat travelnya, ke bank, perpanjang paspor dan tambah nama, suntik meningitis, beli perlengkapan segala macem, literally sendiri. Seru juga ternyata hehe.

Singkat cerita, alhamdulillah aku dan adikku yang cowo (adik yang cewe batal ikut hehe) jadi berangkat ke tanah suci di minggu pertama bulan April. InsyaAllah, ceritanya bakal aku share juga disni, kalo ga males. Hehehe ๐Ÿ˜€

My Hijab Story

Aku kepingin sharing nih tentang perjalananku dalam menggunakan hijab. Kenapa aku sharing ini, insyaAllah akan terjawab secara tersurat atau pun tersirat di postingan kali ini.

Oh iya, sebelumnya mari kita samakan persepsi dulu ya. Ada istilah hijab, jilbab, khimar, dan kerudung. Di post kali ini, sepakat ya aku akan pakai istilah khimar untuk kain penutup kepala dan rambut yang selama ini kita bilang hijab, jilbab, kerudung, bergo, pashmina, dll.

Jadi kalo ditanya “Kapan sih pertama pakai khimar?” atau “Gimana awal cerita pakai khimar?” Aku ngga bisa jawab pasti. Mungkin waktu aku balita atau pas TK atau pas masuk TPA ya udah dipakaikan baju muslim (termasuk khimar pastinya) sama mamahku. Berarti itu kan pertama kali aku pakai khimar ya kan hahaha. Yang jelas, aku mulai sering khimar pas aku kelas 2 SD karena saat itu aku pindah dari SD Negeri ke SD Islam swasta yang mewajibkan siswinya memakai seragam yang menutup aurat. Sejak saat itu aku mau ngga mau rajin pake khimar kemana-mana karena mikirnya, masa di sekolah pakai, terus di luar engga. Kalo ketemu temen sekolah gimana kan.. Walaupun sebenernya kalo boleh jujur mah waktu itu ngga tau esensi hijab, jilbab itu apa dan ngga begitu paham soal wajibnya menutup aurat. Tapi ya masih suka lepas juga kalo ngerasa ngga betah sih hehe. Kelas 4 SD, aku pindah lagi ke SD Negeri karena aku suka kecapekan akibat sekolahnya jauh dan full day school waktu itu. Saat itu aku bisa aja balik pakai seragam biasa yang ga usah pake khimar, tapi entah kenapa waktu itu aku mikir sayang ada beberapa seragam dari SD sebelumnya yang masih bisa dipakai, jadi aku terusin aja pakai seragam panjang dan khimar tanpa mikir apa-apa.

Hal itu berlanjut sampai aku menginjak bangku SMP dan juga SMA. Pas masuk SMP, aku bisa aja minta beliin seragam biasa. Tapi ya aku mikir aja,ย masa pas SD pake khimar terus pas SMP engga. Malu lah. Dan pas masuk SMA juga begitu, masa dari SD terus SMP pake khimar terus SMA engga. Jadi kalo ditanya kenapa pake khimar, ya karena udah terbiasa pake dari kecil. Aneh dan malu kalo tiba-tiba ga pake lagi. Emang sih selama SD sampai SMA, jujur aku belum 100% konsisten. Kalo di sekitar rumah, olahraga, atau jalan-jalan sama keluarga, kadang suka males (jangan dicontoh ya, tapi itu dulu kok hehe).

Lanjut pas kuliah, alhamdulillah bisa lebih konsisten dari sebelum-sebelumnya (walaupun belum syar’i ya). Dan beberapa tahun terakhir ini, aku makin mengerti tentang esensiย menutup aurat. Ya, aku memang mencari, mempelajari, pokoknya berusaha mengulas segala sesuatu hal yang berkaitan tentang wajibnya menutup aurat. Mulai dari tafsir Qur’an, hadits, kajian, artikel, dan sebagainya. Awalnya sih aku cuma kepingin tau aja, terus aku mau make sure bahwa ternyata apa yang aku lakukan selama ini benar dan merupakan salah satu bentuk ketaatanku kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Aku benar-benar percaya kalo menutup aurat itu wajib. Aku ngerasa bersyukur dan beruntung, dari kecil punya rasa malu yang membuatku terus menerus memakai khimar dan menutup aurat, dan ga ketinggalan punya keluarga yang supportive, ga pernah sekali pun ada paksaan dari mamah ayah agar anaknya memakai jilbab dan khimar, tapi mereka selalu mendukung apa yang aku pilih. Dan tentunya mereka seneng kalo aku memilih untuk menutup aurat hehe. Alhamdulillah, sifatku ini menurun ke adik perempuanku. Adikku mulai memakai khimar dari SD karena melihat mamah dan kakaknya pakai khimar.

Kalo dipikir-pikir, misalnya aku ga pindah ke SD Islam, terus ga ngotot untuk tetep pake khimar, bisa jadi aku belum menutup aurat sekarang, tapi untungnya engga. Alhamdulillah ya, Allah baik banget ngasih aku petunjuk dan hidayah saat itu. Aku merasakan manfaat dari perintah Allah untuk menutup aurat itu banyak banget, meskipun lebih banyak yang ga secara langsung.

Jadi perjalananku berhijab dan menutup aurat sih alhamdulillah gaย complicated. Untuk kasusku, ya karena dari kecil udah terbiasa pakai khimar. Karena ga sedikit juga sih aku menemukan cerita orang-orang yang jalannya ga gampang dalam berhijab. Tapi berhubung menutup aurat itu wajib ya harus dilakukan. Sayang, masih banyak wanita muslimah yang belum menyadari akan wajibnya menutup aurat. Ya itu tadi, mungkin perjalanan hijrah mereka ga gampang. Walaupun ada juga yangย pake alasan yang dibuat sendiri ya ๐Ÿ˜€ (no offense)

Oh iya, aku waktu itu denger di salah satu kajian, saat perintah untuk berhijab turun pada zaman Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, wanita-wanita muslimah waktu itu langsung menjadikan kain apa aja yang ada di rumah mereka untuk menutup aurat mereka, tanpa mikir-mikir dulu. Kain gordyn, kain taplak, kain apa aja. Karena perintah dari Allah ya harus dilakukan. Sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami taat.. Masya Allah banget ya. Kita mah, disuruh apa juga paling mikir-mikir dulu. Iya kan?

Sekian dulu cerita hari ini, mungkin ke depannya bakal sharing lagi tentang hijab. Karena aku kepingin teman-teman muslimah yang mungkin belum berhijab cepat diberikan hidayahnya agar segera menutup aurat. Aamiin. Yang udah berhijab? Semoga istiqomah, menyesuaikan hijabnya sesuai syariat, perbaiki sektor-sektor (ibadah) lain dari diri sendiri.