Pindah Sekolah (SMA Negeri di Jakarta)

Long time no see! Sebelumnya mau ngucapin MET LEBARAN YAAA Taqobbalallahu minna wa minkum, walopun telat banget I know. Jadi gimana libur lebarannya? Btw udah pada masuk kerja ya? Yang kuliah atau sekolah udah masuk belom? Kalo aku, hamdalah jam segini masih leha-leha di rumah haha ^^’

Kali ini aku mau cerita soal adikku yang paling bungsu, sebut saja Acil (bukan Mawar loh ya). Jadi Acil ini sekarang naik kelas 12, dan dia udah pindah sekolah 3x selama SMA, jadi total ada 4 sekolah yang udah dia cobain. Nah ini jadi banyak pertanyaan dari netijen, kok pindah-pindah terus, gimana caranya bisa pindah, nyogok bayar berapa buat pindah. Makanya aku mau klarifikasi sharing untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan itu.

Jadi, sekolah pertama yang dicobain Acil adalah MAN 4 Jakarta. Eits, jangan underestimate ya denger kata madrasah. Emang sangat disayangkan, bukannya menggeneralisasi, tapi masyarakat kita masih suka gimana gitu ya, istilah kasarnya sih menganggap rendah, terhadap institusi madrasah. Biasanya kan kalo anaknya ga diterima di sekolah negeri atau bandel banget, dimasukin ke madrasah atau pesantren. Padahal di madrasah atau pesantren, pelajaran agama Islam lebih banyak which is very good lah buat kita sebagai muslim. Kembali ke laptop, jadi MAN 4 ini adalah MAN model, which means unggulan. Aku dulu juga ikut tes masuk sini karena orang tuaku mau anaknya lebih banyak belajar agama. Tesnya ga gampang, dari TPA, matek, bahasa Inggris, bahasa Arab, sholat, doa, baca Quran. Alhamdulillah waktu itu aku masuk dan berada di peringkat 3 besar. Tapi karena jauh, jadinya ga diambil. Nah, Acil juga ikut tes di MAN 4, dan surprisingly diterima juga. Acil ini udah beli seragam dan ikut ospek. Tapi pas ikut seleksi SMA (PPDB ya kalo ga salah namanya), dan diterima juga di sekolah negeri, dengan banyak pertimbangan akhirnya milih ke sekolah negeri dan ga jadi di MAN 4. Faktor lokasi emang jadi yang paling utama, orang tuaku juga dilema banget sama masalah ini.

Acil diterima di SMAN 51. Itu emang bukan pilihan pertamanya, tapi karena dapetnya itu ya udah akhirnya masuk situ. Lokasinya lumayan sih, sekitar 8-9 km dari rumah. Singkat cerita, orang tua mau Acil sekolah di tempat yang lebih kejangkau, ga lebih dari 5 km lah dari rumah. Mau pindah pas semester 2, tapi sayang di sekolah negeri yang deket rumah belum ada kuota.

Nah, pas naik ke kelas 11, ada kuota di SMAN 98 dan SMAN 106. Setelah daftar dan ikut tes, Acil diterima di 106. Acil sebenernya maunya masuk 98, tapi ya udah ga diterima. Acil pindah ke 106, dan orang tuanya lega karena sekolahnya deket, cuma 3 km dari rumah.

Tapi adikku yang satu ini pantang menyerah banget loh. Kelas 11 semester 2, dia cari info dan ternyata ada kuota lagi di 98 karena ada yang pindah. Akhirnya dia daftar lagi dan tes lagi. Alhamdulillah, dia diterima! Perjuangan Acil selama SMA ini tough banget ya, dan terbukti ga sia-sia. Jujur, aku salut sama dia, walopun (aku anggep) dia masih kecil tapi dia berani, pede, dan semangatnya besar. Acil sekarang sekolah dengan gembira setiap hari, dan yang paling penting katanya, bisa ikut ekskul hockey, yang ga ada di 51 dan 106. Selain itu, 98 jaraknya cuma 900 m dari rumah. ^^’

Tadi udah cerita kenapa Acil pindah-pindah sekolah, sekarang mau jawab how to-nya. Mungkin ga detail-detail banget, dan fyi ini buat yang sekolah negeri di Jakarta ya. Sebenernya nanti pas proses pindah juga bakal dikasih tau dan dituntun alurnya kok. 🙂

  1. Cari info di sekolah baru (sekolah yang dituju/mau pindah ke sekolah itu) ada kuota atau bangku kosong ga. Karena kalo ga ada, ya ga bakal bisa (tapi ga tau juga ada pengecualian ga). Biasanya bakal ditempel di papan pengumuman di sekolah itu tentang informasi kuota.
  2. Daftar untuk tes di sekolah baru, dan kumpulin persyaratan dan dokumen yang diperlukan. Biasanya sih akte, KK, ijazah pendidikan terakhir, rapot dari sekolah sebelumnya, surat pernyataan. Infonya pasti ada dan barengan sama info kuota kok.
  3. Tes di tanggal yang telah ditentukan. Pas Acil sih, ada tes tertulis (kemampuan akademik) dan wawancara. Paling ditanyain alasan pindah dan kegiatan di sekolah.
  4. Pengumuman diterima atau ga di sekolah baru. Biasanya ditempel juga.
  5. Konfirmasi atau lapor diri ke sekolah baru.
  6. Urus-urus dokumen. Nah ini aku kurang tau detailnya karena orang tua yang urus. Kalo ga salah sih, harus cabut berkas gitu di sekolah lama dan harus ke Dinas Pendidikan di wilayah kotamadya (kalo kami, Jakarta Timur). Eh apa kantor Walikota Jakarta Timur gitu. Pokoknya ngurusin dokumen dan berkas-berkas data Acil, bolak-balik antara sekolah lama, Diknas, dan sekolah baru. Cmiiw.
  7. Kalo udah beres ya udah. Selamat bersekolah di sekolah baru.

Pertanyaan yang paling penting, bayar ga sih pindah-pindah gitu? Alhamdulillah NOL RUPIAH saja 🙂 Jadi gratis ya, wahai netijen. Di sekolah lama, sekolah baru, maupun Diknas, ga ditarik biaya sama sekali, parkir pun gratis hehe. Prosesnya juga gampang, cepat, dan ga ribet. Thanks to our last governor yang kinerjanya emang terbukti bagus (plis ini bukan kampanye ya wahai netijen, fyi aku pastinya bukan pendukung beliau). Lagian kalo misalnya harus bayar, ya ga bakal lah orang tuaku mau mindah-mindahin anaknya, karena kami sama sekali ga ada biaya buat itu. Kami tergolong keluarga yang pas-pasan aja tapi kami bahagia. ❤

Sekian sharing kali ini, semoga bermanfaat. Kali aja ada yang mau pindah sekolah. Hehe 😀

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s